Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa
“Tahta Untuk Rakyat”
sebuah inspirasi dan semangat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa
Sejak dibangku Sekolah Dasar, kita sudah mempelajari begitu banyak cerita inspirasi dan semangat yang dilahirkan oleh tokoh besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX. selain dikenal sebagai pemimpin yang berwibawa,bijaksana, merakyat, dan sangat pandai mengendalikan hawa nafsu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga dikenal dengan keberhasilannya membawa Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta menuju kemajuan dan perkembangan yang pesat. Banyak perubahan yang dilahirkan oleh pemilik nama kecil Dorodjatun ini. Tak hanya itu, dalam kancah Nasional Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga berperan aktif dalam kemerdekaan dan pembangunan NKRI. Bukan hanya dengan “Tahta untuk rakyat”, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga menggunakan segala upaya, merelakan semua harta, dan pengetahuannya untuk memajukan bangsa, dan itu merupakan hal yang sangat jarang kita temukan pada pemimpin kita saat ini.
(Poto bersama teman dipintu masuk stasiun jogjakarta, “Tahta untuk Rakyat”![]()
Sebagai mantan anggota Pramuka, kita juga pasti sangat terinspirasi dari sejarah kecil hingga dewasanya Kanda Pembina sekaligus bapak Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tahun 1968 ini. sejarah menunjukkan ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai ketua Kwarnas, banyak sekali perubahan dan kemajuan yang beliau lahirkan, salah satunya adalah beliau dikenal dengan pemimpin yang berwibawa dan mau turun langsung menemui para “adik-adik”nya.
Meski menjadi seorang keturunan raja, beliau mengajarkan kepada kita bagaimana hidup sederhana dan berdisiplin tinggi. hal ini tentu sangat menginspirasi anak-anak muda jaman sekarang, termasuk saya juga
, dimana banyak anak-anak muda yang terlalu mengandalkan keluarga dan orang tuanya dengan cara bermanja manja, bermalas-malasan, hingga menyombongkan diri dalam pergaulan. Dorodjatun, seorang anak dan keluarga raja saja bisa hidup sederhana, berdisiplin tinggi, dan berani tinggal terpisah dengan orang tua (kalau jaman sekarang ngekos, asrama) sejak berusia 4 tahun. sehingga sangatlah salah jika anak muda jaman sekarang takut jika harus ngekos/tinggal terpisah dengan orang tua. sejak dititipkan pada keluarga Mulder seorang berkebangsaan Belanda yang tinggal di Gondokusuman, Dorodjatun diajarkan bagaimana hidup sederhana sesederhana mungkin, tidak mengandalkan orang tua, tidak bermanja manjaan, dan tentu tidak bermalas malasan.
Hingga ia kembali dari pendidikannya yang secara umum berada dilingkungan keluarga Belanda. Namun, yang membanggakan adalah, meski bersekolah dan hidup dilingkungan Belanda, Dorodjatun tetap lebih cinta pada tanah kelahirannya, yaitu Jawa. Hal ini tentu menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua generasi muda, bahwa dimanapun kita tinggal, dimanapun kita mengenyam pendidikan, baik diluar negeri maupun didalam negeri, kita harus tetap cinta tanah air dan bangsa. Seperti yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, beliau tetap lebih mencintai dan menghormati tanah kelahirannya diatas segalanya, beliau mengenyam pendidikan tinggi untuk memakmurkan rakyatnya, beliau tinggal dilingkungan belanda untuk mempelajari kehidupan belanda, sehingga kelak ia bisa menjadikan perbedaan antara belanda dan indonesia menjadi sebuah harmonisasi yang indah. hal ini sekali lagi tentu menjadi inspirasi bagi kita, bagaimanapun pergaulan kita, dengan siapapun kita bergaul, kita harus menjadikan perbedaan menjadi sebuah irama kehidupan yang harmonis, bukan sebaliknya.
Satu lagi kisah inspirasi dari pahlawan nasional Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yaitu saat beliau ditilang. kala itu beliau melawan arus lalu lintas karena menganggap jalanan masih sepi, namun seorang polisi berpangkat brigadir menghentikan mobil beliau. seperti biasanya, polisi menanyakan surat dan macam-macam, namun Sri Sultan Hamengku Buwono IX langsung mengaku salah sehingga dibuatkan surat tilang, tanpa kompromi, tanpa negosiasi, tanpa tawar menawar. hal ini tentu menjadi pelajaran bagi kita sebagai generasi muda, seorang raja saja mau ditilang tanpa negosiasi dan tawar menawar, bagaimana kita seorang pemuda biasa yang biasa melakukan tawar menawar saat ditilang polisi. seorang raja saja tidak menggunakan kekuasaannya untuk melanggar hukum, lalu bagaimana dengan kita? apa akan memanfaatkan kekuasaan untuk melanggar hukum,? lalu bagaimana dengan saya yg tak memiliki kekuasaan, apa bisa melawan hukum?. hukum harus tetap ditegakkan seperti yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
saya sempat mendengar cerita kawan tentang kisah seorang ibu-ibu pedagang beras dan sayuran tiba-tiba pingsan setelah memarahi seorang sopir yang ternyata adalaj Sri Sultan Hamengku Buwono IX. kisahnya bermula ketika seorang ibu pedagang menghentikan mobil Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang melaju didaerah pasar utara tugu, sang ibu langsung naik kedalam mobil dan meminta sopir mobil tersebut untuk menurunkan barang jualannya yang terdiri dari sayur dan lainnya, begitupun ketika turun, sang ibu meminta sopir tersebut untuk menurunkan barang dagangannya. begitu si ibu ingin membayar, sang sopir menolak dengan halus, namun ibu-ibu itu memaki-maki sang sopir, namun sang sopir pergi sambil tersenyum tanpa dendam. begitu sopir melaju kearah tugu, seorang polisi mendekat dan bertanya pada si ibu, kira2 kata-katanya begini “Bu, emang ibu tau tadi yang ibu marahi itu siapa?”, si ibu menjawab “itu sopir aneh, sopir ya tetap sopir, tapi ini sopir blagu amat, dikasi duit malah g mw” si ibu masih ngomel-ngomel, lalu pak polisi menjawab “tadi itu, yang ibu marahi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX”, begitu mendengar jawaban pak polisi, si ibu langsung pingsan.
saat NKRI mulai terbentuk, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyumbangkan uangnya yang tidak sedikit sebagai modal awal berdirinya NKRI. hal ini tentu saja sangat berbeda dengan kondisi saat ini, dimana para “oknum” lebih mengambil modal daripada memberi. sebagai generasi muda, tentu kita sudah mengetahui harus mengikuti siapa, mengikuti oknum atau yang dilakukan sultan.
Tak tanggung-tanggung, cikal bakal berdirinya kampus besar yang bernama Universitas Gadjah Mada, saat ini telah menjadi world class university merupakan kampus besutan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyumbangkan pemikiran, ideologi, naungan politik, serta tanahnya hingga UGM mampu berdiri dan menjadi seperti saat ini.
Kini Satu abad sudah hari jadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sangat banyak pemikiran, perilaku, dan keputusan beliau yang menjadi inspirasi sekaligus pembangkit semangat generasi penerus bangsa. Hal yang tentu sangat penting dari perilaku dan pemikiran beliau yang terangkum dari tulisan ini adalah :
1. Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki nama kecil Dorodjatun, berasal dari keluarga dan anak raja saja tidak takut untuk hidup jauh dari orang tua alias ngekos, dengan ngekos dirumah keluarga belanda, Dorodjatun dididik menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, sederhana, disiplin, serta bertanggung jawab. bagaimana dengan kita? masih takut hidup jauh dari orang tua? masih takut hidup mandiri, sederhana, disiplin, dan bertanggung jawab?
2. Seorang Sri Sultan Hamengku Buwono IX atau raja jawa saja tetap lebih mencintai tanah kelahirannya, meski besar dilingkungan keluarga belanda, mengenyam pendidikan diBelanda, dan sekolah belanda. bagaimana dengan kita, masih adakah alasan untuk tidak mencintai tanah air kita?
3. Seorang raja Sri Sultan Hamengku Buwono IX saja mau turun kepasar tradisional, mau menjumpai rakyat-rakyat dijalanan, dan menjumpai rakyat kecil lainnya untuk mendengarkan keluh kesah serta harapan masyarakat secara langsung. bagaimana dengan kita, masih enggankah kita untuk turun langsung kemasyarakat, masihkah para pemimpin kita akan turun kemasyarakat hanya saat kampanya saja?
4. Seorang raja Sri Sultan Hamengku Buwono IX saja tidak menggunakan kekuasaannya untuk menghindar dari serangan raja tilang jalanan. bagaimana dengan kita, masihkah kita akan melakukan tawar menawar hukum,?
5. Seorang raja Sri Sultan Hamengku Buwono IX menggunakan tahtanya murni untuk rakyat. bagaimana dengan kita? akankah kita akan mengikuti pemimpin saat ini, atau mengikuti jejak Sri Sultan Hamengku Buwono IX?
6. Seorang raja Sri Sultan Hamengku Buwono IX saja tidak mau menerima imbalan/bayaran diluar bayaran seharusnya, beliau membantu dengan iklas. bagaimana dengan kita? masih banyak diantara kita dan pemimpin kita yang justru sebaliknya, yaitu meminta imbalan setelah membantu seseorang.
7. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyumbangkan uang dan kekayaannya untuk membangun NKRI dari awal. bagaimana dengan kita? meski tidak menyumbang uang, minimal menyumbangkan tenaga dan pikiran kita untuk pembangunan NKRI, bukan seperti yang dilakukan “oknum2 pemimpin” yang mengambil kekayaan NKRI.
8. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyumbangkan tanahnya untuk membangun kampus UGM, bagaimana dengan kita? meski tidak dengan tanah, mari kita membangun kampus tercinta dengan karya, dengan pemikiran, dan tentu dilakukan dengan iklas.
Banyak sekali inspirasi dan semangat yang telah beliau lahirkan. Kini dengan semangat 1 Abab jadinya Sri Sultan Hamengku Buwono IX, saatnya kita bersama-sama mengikuti jejak dan contoh kehidupan yang beliau wariskan untuk kita semua, demi moral para penerus bangsa, membangun tanah kelahiran, dan membangun NKRI secara utuh.
Tahta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dijadikan sebagai media mensejahterakan rakyat secara umum, bukan semata-mata untuk mencari harta seperti yang banyak dilakukan pemimpin dinegeri ini. dengan semangat 1 abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekali lagi mari kita bersama-sama merenungi dan menjalankan nilai-nilai yang dilahirkan dan yang dicontohkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk terus membangun bangsa, karena NKRI adalah harga mati.
















